DVD PORNO DI BULAN RAMADHAN

                  

Kompas.com – 10 September, 2008 
JAKARTA, RABU- Di bulan Ramadhan ini, para pedagang DVD/VCD porno tetap saja bebas menggelar dagangannya di Pasar Harco Glodok, Jakarta Barat. Mereka memang tidak memajang dagangannya secara mencolok di bagian depan pasar seperti biasanya, tetapi juga tidak sembunyi-sembunyi.

Pantauan Kompas.com sepanjang Selasa (9/9) kemarin, para pedagang tidak menggelar dagangan di bawah tangga penyeberangan seperti biasanya. Mereka juga tidak agresif menawarkan kepada setiap pejalan kaki yang melintas.

Akan tetapi, begitu masuk ke lantai tiga, sebuah kios besar tetap saja menggelar film-film dengan gambar seronok itu di sebuah kotakan besar. Pengunjung juga bebas memilih-milih film yang disukai tanpa risih atau takut digerebek polisi.

 

lnilah protet masyarakat kita sebenarnya. Seorang pengamat sosial pernah mengatakan bahwa masyarakat kita sedang sakit. Maksudnya, secara moral masyarakat kita mulai kehilangan prinsip-prinsip moral yang selama ini selalu diagung-agungkan seperti menjaga kesopanan susila, bersikap lembut dan hati-hati, saling menghormati dan menghargai hingga memiliki rasa malu ketika melakukan hal yang salah.

Sekarang, kemana prinsip-prinsip itu? Berita dari kompas di atas menunjukan banyak hal. Bulan Ramadhan yang oleh Allah SWT diturunkan justru untuk membantu ummat manusia mereduksi dosa dan kesalahan yang lalu serta kesempatan untuk membina diri menjadi manusia berkualitas secara moral, ternyata bagi sebagian masyarakat kita (sebagian besar tentu beragama Islam) bahkan disia-siakan dengan cara berjualan DVD porno. Musnah sudah  prinsip menjaga susila, rasa malu, serta menghormati. Kalau sudah begitu, mungkinkah mereka berjualan sambil tetap berpuasa?

2 Tanggapan

  1. jangankan DVD porno mas, yang sangat ringan saja, yakni merokok ditempat umum (kereta misalnya) mereka tak risih lagi koq. warung-warung buka seenaknya. ironisnya, yang buka warung itu puasa. nah loh…

    fenomena seperti ini, semakin parah dikemudian hari. etika memang telah mati. slogannya saja sudah salah “untuk menghormati bulan ramadhan”, berarti yang dihormati bulannya. bukan orangnya. sama saja kalau diterjemahkan, yang puasa itu bulannya. orangnya mah padha bae alias sami mawon.

    bangga akan eksistensi diri sebagai muslim, layak dipertanyakan. sakit individu, masih gampanglah dicari solusi. tapi klo sakit “sosial” ? wah, bagaimanapun sesuatu yang dilakukan secara berjama-ah memang lebih solid.

    maka, untuk hal seperti bertia di kompas itu, hanya dapat dibendung secara berjama-ah pula. prinsipnya, rasa saling percaya, saling hormati, saling mengayomi antara rakyat dengan pemerintah mesti dikoreksi (tingkatkan) lagi. kalau setiap individu mulai dari diri-sendiri, dan mengesampingkan menuntut pada orang (intansi) lain, saya kira ini lebih efektif.

    masalahnya, sudah lebih banyak orang yang meninggalkan “Tuhan” hanya untuk mengejar “tuhan” yang nampak mata.

    salam,
    salwangga

  2. hukumnya kang yang nggak jelas
    KUHP = Kasih Uang Habis Perkara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: