MENGEJAR FAJAR SAMPAI BATU KARAS

Laut Adalah

KtKeJogjAja.Gmn? [Send]
[Balas] Ok aja Sih.tp danaku mpet euy…
GmnaKaloCijulang.NaikMtor. [Send]
[Balas] Nah,kalo itu oke.kita bs ke batukaras. ktmu di bandung hr Kmis.
Sip!! [Send]

Batukaras. Sisi lain dari deretan pantai selatan pulau Jawa. Hanya beberapa kilometer dari panti Pangandaran. Ini ide menarik. Meluncur dengan motor menuju Batukaras bersama Roni, temanku yang punya keluarga di daerah sana.Jumat subuh, jam 5-an, kami berangkat dari Bandung. Melaju menuju pintu keluar kota. Maunya sih sarapan kupat tahu dulu di stasiun Bandung. Sayang, pemilik warung belum siap. Kami lebih pagi dari penjual kupat tahu. Hebat!Di atas mesin beroda 2 kami melaju santai antara 60 – 90 km/jam. Bandung masih senyap. Keluar Bandung melalui daerah Cileunyi.Negeri di atas awan!Kami terkesima sejenak. Berhenti. Menikmati pemandangan pohon dan rumah yang diselimuti kabut. Kamera saku digital Panasonic aku keluarkan.Ah, sial. Memory cardnya minta diformat. Tapi tidak ada menu format di kamera digital.
Satu momen terlewat. Kami melaju lagi. Temanku Roni yang gemar nonton balapan Motor GP mengendalikan motor melalui Nagreg, Malangbong, Tasikmalaya, dan Ciamis yang jalurnya meliuk-liuk. Dia menikmati. Aku hanya berdoa semoga motor ini tidak tergelincir karena aku tahu persis motor ini tidak masuk standar Motor GP sekalipun.Menuju BatukarasMelaju Ke BatukarasJalan Menuju Batukaras
Setelah Ciamis kami berhenti beberapa meter di gerbang masuk kota Banjar. Istirahat dipinggir hutan. Mencoba memformat card memory melalui laptop. Gagal. Format lagi di fat32. Masih gagal. Format lagi di fat biasa. Berhasil.
Eureka!!
Jepret!! Jepret!!
Rehat di BanjarWaktu menunjukan pukul 9.30-an. Kami melaju masuk kota Banjar menuju arah Pantai Pangandaran. Kota Banjar tenang seperti pohon besar yang menikmati sepoi angin di tengah padang savana meski saat itu long weekend. Melaju mulus satu setengah jam melewati Banjarsari, Kalipucang, Padaherang, masuk Pangandaran, kami bertemu muka dengan gerbang masuk pantai Pangandaran. Roni membelokan motor ke kanan. Ini arah kita, ujarnya.
Menuju PangandaranMelalui perbukitan, jalan meliuk-liuk, dan mendung menggantung kami melaju terus sambil berdoa semoga hujan belum lagi mau turun. Berderet derah Cikalong, Cibenda, Parigi kami lalui bersama gerimis dan basahnya jalan aspal. Mendekati jam 12 kami masuk di daerah Cijulang.“Kita motong jalan melalui sasak gantung (jembatan gantung). lebih cepat,” usul Roni tanpa menunggu persetujuanku. Kami berbelok ke jalan desa berbatu kapur.Sasak GantungBenar juga. Ada sungai yang memisahkan desa. Cukup lebar sekitar 30 meter. Jembatan gantung ini dibuat dari bambu yang dianyam kemudian digantung dengan kawat sepanjang sungai yang memisahkan desa. Cukup mendebarkan siapapun yang belum biasa melewatinya. Tapi sangat membantu karena jika tidak, kami harus memutar jalan sekitar 10 km.

Hanya beberapa menit kemudian kami tiba di rumah neneknya Roni di desa Mandala. Hanya tinggal 5 menit dengan motor berkecapatan 40 km/jam menuju pantai Batukaras.

Sore pukul 4 kami menuju pantai Batukaras. Jarak 300 meter aroma laut dan suara dembur ombak mulai menyapa. Pantai masih ramai. Deretan perahu nelayan berjajar rapi. Beberapa penduduk sedang nyair (menjaring) ikan. Cukup berat. Mereka harus menarik tali jaring yang panjangnya sekitar 300m lebih, bahu membahu dengan 4 atau 5 orang. Menarik pelan. Hari ini hasilnya bakal sedikit karena musim ikan belum datang, jelas seorang penduduk.

Berdua

Nyair Jaring

Nongkrong di Perahu

Sekumpulan anak desa bermain di pinggir pantai. Berenang. Meloncat. Meledek. Mereka tertawa-tawa riang di pantai yang sebenarnya terlarang untuk berenang. Ada tempat khusus untuk berenang dipantai. Sisi selatan. Ah, itu hanya untuk turis. Selanjutnya mereka mengubur sebagian tubuh temannya. Lagi-lagi mereka tertawa. Puas.

Bermain Pasir

Mereka Berenang

Hari mulai gelap. Sore perlahan digantikan malam. Kami meninggalkan pantai Batukaras. Istirahat di rumah neneknya Roni.

Malam ini kami menyortir foto-foto. Aku kelelahan dan memilih menikmati lelap di desa Mandala. Roni masih menyortir foto lalu mengeditnya. Masih sempat juga ia menulis beberapa puisi untuk ilustrsi foto sampai jam satu malam. Ah, melo banget…..

Subuh kami bergegas. “Kita beli serabi yuk,” ajak Roni. Motor kami melaju menuju pantai lagi. Mampir sejenak ke penjual serabi. Tutup. Padahal baru jam 5.30.

Pagi di Batukaras

Fajar di Batukaras

Kami melaju ke pantai mengejar fajar. Tiba di pantai Batukaras lagi. Menatap ke horison menikmati laju pelan sinar matahari. Ah, berawan. Sayang sekali. Wajah indah sang mentari tak ku dapat saat ini. Kami mengambil jalan ke utara. “Kita akan lurus sampai mentok,” tantang Roni.

Sip!

“Mr Crab!! Ada mr crab lewat!!” teriak Roni. Aku langsung beraksi menyiapkan kamera. Roni mengambil batang pohon untuk menggiring mr. crab. Nampak sekali mr. crab marah. Ia mengacung-acungkan dua capitnya dengan gagah. Kami senang melihatnya bergaya begitu walau mungkin saja mr. crab sedang marah dan stress karena perjalanannya terganggu. Hehehe….. maaf ya mr. crab. Kami cuma mau ngambil fotomu.

Mr. Crab

Di sisi utara ini pantai Batukaras begitu sepi. Kami hanya bertemu seorang turis yang sedang joging. Ini yang kami cari. Kesunyian di Batukaras. Roni menuliskan beberapa kata di pasir. Lalu aku memotretnya. My-chocolate.cn, bagitu ia coret di pasir. Sebuah alamat website pribadinya.

Aku melamun saja. Menghirup sebanyak-banyaknya sisi sunyi Batukaras. Jepret sana-sini layaknya fotografer handal. Udara menghembus sedang. Matahari bersinar hangat. Waktu masih menunjukan pukul 07.00. Aku bersila seperti pertapa. Manatap lama ke horison. Di sanakah kehidupan bidadari? Lama aku menatap horison berharap beberapa bidadari meloncat riang secara tiba-tiba dari balik batas horison. Melesat di sekitarku dan menyapa dengan nada menggoda lalu meninggalkan sebuah selendang sutranya untukku sehingga aku bisa mendapatkannya tanpa perlu mengendap-ngendap seperti Joko Tarub, sang legenda. Aku juga berharap, dibalik selendang itu sang bidadari meninggalkan deretan angka nomor selularnya. Setidaknya aku tahu, operator mana yang mendapat ijin beroperasi di khayangan. Gubrak!!

Menatap Horison

Hari makin siang. Kami harus bergegas mengejar waktu menuju bandung. Menghindari hujan. Menjelang sore jam 3 kami melaju meninggalkan desa Mandala dan pantai Batukaras.
“Lain waktu kita mesti mengatur perjalanan panjang, deh,” teriakku mengajukan usul di atas motor.

“Kemana?” Roni menyahut.

“Jogja?”

“Ok. Pulang dari Jogja kita mampir ke Ambal (Jawa Tengah) nikmati sate, baru ke Batukaras. Gimana?” usul Roni.

“Let’s go, man!”

Bandung, 23 Maret 2008

Pagi di Batukaras

6 Tanggapan

  1. Nih,aku udah masuk toindonesia.wordpress.com lagi. Sebenarnya sering,tapi biasanya tanpa meninggalkan jejak.:D Foto-fotonya keren,euy.Jadi sirik ngga bisa ikutan jalan-jalan. Kapan ya aku bisa jalan-jalan lagi??? Hmmmh…

  2. Wah seru sekali perjalanannya
    lebih seru lagi kalau kita bisa tahu informasi tentang harga dan penginapan disana jadi suatu saat kita mau kesana udah gak terlalu susah lagi buat cari informasinya

  3. bisa minta foto batukarasnya ga buat pelengkap tulisanku….makasih sebelumnya.
    anik-batukaras girl
    jl. pantai batukaras no 146 rt 16 rw 07 mandala-batukaras

  4. asyikkkkkkkkkkk…
    makasih sebelumnya..kalu bisa lewat email aja ya biar ukuran dan resolusi fotonya gede…
    ditunggu ya…
    salam kenal…

  5. batukaras………………………..kalau saya sih inget batukaras ke esokan harinya sehabis tsunami 2006 dulu…maklum ketika itu saya berada di nagrog …masih desa batukaras sih…eh sekarang udah 3 th gak ke batukaras……………………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: