DAUZAN FAROOK, BERJUANG SAMPAI MATI

Sang Pejuang

Rumah itu tidak juga berubah. Tua. Hening. Dan penuh buku. Seperti biasa, pintu depan terbuka sedikit sekedar tanda, penghuninya sedang ada di rumah. Selangkah masuk ke dalamnya sekejap hidung ini langsung disergap oleh berbagai aroma mulai dari kelembaban rumah tua hingga buku-buku yang sebagian berdebu dan berserakan di tiap sudut rumah. Inilah Mabulir. Perpustakaan swadaya masyarakat. Beroperasi 24 jam. Mabulir adalah kependekan dari Majalah Buku Bergilir.

Buku Senjataku
BUKU SENJATAKU


Didirikan Mbah Dauzan Farook, veteran 45 berusia 80 tahun, dirumahnya jalan Kauman Gm I/328 Yogyakarta. Rumah tua bergaya joglo dengan luas sekitar 300m2 ini akhirnya menjadi rumah masyarakat dengan koleksi buku mulai dari ujung depan rumah hingga belakang. Ribuan dan beragam bidang. Benar-benar rumah masyarakat karena ketika malam pun tidak pernah terkunci.

Para Aktifis Literasi
Sumanto, Zazuli, Mbah Dauzan, dan Usweh. Hidup literasi Indonesia!!

Mbah Dauzan dan Mabulir telah melayani ribuan masyarakat di Jogja dan sekitarnya. Biasanya mereka terdiri dari kelompok-kelompok baca yang secara periodik mengirimkan perwakilannya untuk mengembalikan dan meminjam buku. Dibiayai dari tabungan hajinya dan uang pensiun 500 ribu per bulan, Mbah Dauzan ngemong masyarakat dengan buku.

Inilah perang informasi, ujarnya satu ketika.

Ayo Baca!!
Ayo, baca!!

Berusia 80 tahun dan masih ikut perang? Inilah si Mbah.

Sebagian masa mudanya habis untuk mengusir Belanda dan Jepang. Kini, dunia pun masih dia lawan. Tak kurang kanker paru-paru karna kebiasaan merokoknya pun takluk. Enggan hinggap terlalu lama di paru-paru si Mbah. Blessing in the sky, celetuknya lagi. Tidak kalah dengan anak sekarang, si Mbah memang suka nyeletuk dengan bahasa Inggris atau Belanda.
Alloh memang terlalu sayang kepada si Mbah. Lebih dari sekali nyawanya melayang, mulai dari terseret kuda ketika menjadi tentara, serangan kanker paru-paru, jatuh dari motor, hingga robek belakang kepalanya karna tiba-tiba pingsan dijalan saat berangkat sendiri mengambil uang pensiun. Lupa sarapan, hehehe…

Seperti biasa, ia selalu menyempatkan tertawa terkekeh-kekeh mengejek kesialannya sendiri. It’s blessing in the sky, katanya untuk kesekian kali.

Ah, si Mbah. Blessing-blessing aja.

Melangkah lebih jauh ke dalam rumah, penulis disambut Mas Muh. Asisten pribadi si Mbah. Mas Muh mengajak ke ruang tengah. Di sana dua orang karyawan Mabulir dan seorang voulenteer sedang bekerja memperbaiki buku atau sekedar menguatkan buku-buku yang hampir rusak.

“Si Mbah lagi ke bank. Ngambil uang pensiun. Sebentar lagi juga datang, “ jelas Mas Mus yang seolah sudah tahu maksud kedatangan penulis.

Sambil terus bekerja, Mas Muh dan para karyawan bergantian bercerita, mulai dari pencuri komputer dan buku-buku Mabulir yang akhirnya tertangkap, penampilan si Mbah di acara Kick Andy Metro TV, blockgrant dari sebuah funding hingga kedatangan Yayasan Keluarga Hasyim Joyohadikusumo yang akan memberikan bantuan untuk operasional dan pengembangan.

Tidak lama kemudian terdengar langkah dan suara khas si Mbah. Langsung ke ruang tengah menemui Mas Mus, mengkonfirmasi beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu.

“Siapa ini?” kata si Mbah sambil memicingkan matanya melihat ke penulis. “Lho, Mas Zazuli? Dah lama?”

Sekejap si Mbah langsung nyerocos bercerita. Sama dengan yang diceritakan oleh para karyawan tadi. Tapi lebih detail. Tak ketinggalan cerita kegiatan hari itu dan agenda kegiatan beberapa jam ke depan. Padat. Si Mbah memang memiliki kebiasaan, kalau bercerita total. Maksudnya, total semua yang dikepalanya diceritakan dan jika tidak diingatkan bisa seharian lamanya.

“Masih ngajar musik? Sebentar ya?” ujarnya sambil beranjak menuju rak buku. Diambilnya beberapa buku musik yang nampaknya sudah disiapkan seolah tahu penulis akan datang. Ini satu lagi kebiasaan si Mbah. Memberi bekal buku sesuai orang-orang yang ia kenal baik dan hebatnya selalu ingat bahwa buku itu sudah ia siapkan. Padahal orang yang dimaksud tidak pernah bisa dipastikan kapan akan ke Mabulir lagi.

Ah, si Mbah.

Sejurus kemudian si Mbah sudah bersiap-siap mau pergi.

“Saya ada janji dengan Bu Sitoresmi. Mas Zazuli ikut aja ya,” ajaknya.

Tiba-tiba si Mbah marah. Mengomel tidak karuan ke asistennya. Kacamatanya hilang. Benda penting itulah andalan si Mbah ketika beraksi. Tentu saja seisi rumah panik. Tapi….

“Itu yang lagi nempel dihidung apaan?” tunjuk Mas Muh.

“O ya? Hehehe….. Inilah gara-gara alzheimer.”

Ah, si Mbah.

Cimahi, pagi hari penghabisan Ramadhan di SD Hikmah Teladan.

SDHT kembali sunyi setelah semalaman menggembleng anak-anak dengan siraman rohani. Guru-guru sebagian sudah beranjak pulang. Sebagian lagi masih istirahat sambil ngobrol di ruang tamu ketika penulis dikejutkan oleh bunyi sms beberapa kali. Rupanya ada beberapa pesan yang masuk secara berurutan seperti gerbong kereta api.

“Telang berpulang, Mbah Dauzan Farook, Pahlawan Literasi* Indonesia, pendiri dan pengelola Mabulir Yogya.”

Kaget. Tetap saja kaget meski tahu usianya tak lagi pagi. Kaget karna inilah maut yang tak terhindarkan. Maut yang datang bersama sakit perut.

Tak terasa air mata ini menetes. Mengingat kegigihan si Mbah menawarkan buku ke setiap orang di Jogja, rengkuhan kuat ketika dibonceng motor, ucapan tasbihnya yang tak putus ketika berkeliling melihat Bantul porak poranda oleh gempa, ketegarannya saat dicemooh orang-orang sekitar yang tidak paham sepak terjangnya, dan film dokumenter tentangnya yang tak kunjung tuntas karna hidupnya yang terlalu luas. Bahkan dibandingkan Jogjakarta sekalipun.**

2 Tanggapan

  1. Karya mbah Dauzan tak kan pernah lekang di makan waktu..luar biasa ..

  2. Semoga mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya,,Aminn,,saya sempat antara tahun 1997 s/d 1998 belajar sama Beliau tentang Mabulir,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: