WANITA, FEMINISME, DAN KEMASKULINAN
Pagi kemarin 21 April, penulis tidak terlalu ingat hari itu semua sekolah memperingati Hari Wanita Indonesia. Yang penulis ingat, Hari Wanita Indonesia adalah 25 April. Ternyata ini adalah hari ulang tahun seorang sahabat penulis, bukan Hari Wanita Indonesia. Ingatan penulis benar-benar muncul setelah melihat beberapa anak berkostum daerah sedang riang bermain di beranda rumah kuno di daerah Kosambi Bandung. Itupun penulis tidak langsung ingat. Dalam pikiran penulis anak-anak itu habis mengikuti prosesi perkawinan atau kegiatan lomba tertentu. Semua ini diperkuat dengan keadaan di sekolah tempat penulis mengajar yang dingin-dingin saja.
Baru jam dua belas siang penulis ingat,’oh, ini Hari Wanita Indonesia.’
Wanita.
Jenis mahkluk yang setiap tahun dan setiap detik menjadi bahan perdebatan. Peranannya selalu dikaji, keelokannya tak habis dipuji. Wanita, perempuan, dan gadis menempati peranan yang tersendiri dalam kehidupan. Tak kurang Qur’an menyediakan space khusus untuk menceritakan semua hal berkaitan dengan perempuan dan Adam a.s. harus meminta-minta dengan sangat kepada Tuhan agar ia tak kesepian di antara kenyamanan dan kemewahan surga. Bagi Adam a.s, surga saja tidak cukup. Sama seperti kita. Rumah dan mobil saja tidak cukup. Benda-benda itu hanya menyenangkan jasmani namun tidak memberikan kontribusi apa-apa pada rohani.
Di dunia kontemporer, laki-laki yang bosan dengan kelakiannya bersusah-payah menjadi wanita. Bagi mereka kelakian begitu menyiksa dan tidak menyenangkan. Lebih nikmat menjadi wanita meski organ reproduksinya tetap maskulin. Mereka tetap mengeluarkan sperma jika ejakulasi dan penisnya tetap ereksi ketika terangsang meski kecantikannya tak kalah elok dengan Britney Spears. Wanita sebagai jiwa.
Wanita memberikan peranan unik dalam budaya tradisional maupun kontemporer meskin sampai detik ini wanita selalu dipahami sebagai mahkluk yang lemah. Lemah? Yah, lemah. Sebagian besar masyarakat kita masih memandang wanita sebagai mahkluk lemah betapapun sejarah telah melahirkan wanita-wanita yang tangguh mendobrak kehidupan. Pun sehari-hari kita banyak menemui para ibu yang membesarkan anaknya sendiri.
Tidak mudah memang merubah pola pikir wanita itu lemah. Dibelahan dunia mana pun pikiran ini tetap kukuh bahkan di negara-negara yang mengagungkan hukum Islam. Ironi. Anomali. Kontradiktif. Ketika Islam disempurnakan di Mekkah melalui Muhammad - Islam tidak lahir di jaman Muhammad melainkan sejak Nabi Adam – tidak terhitung wanita yang terselamatkan dari perendahan oleh budaya Jahiliyah masyarakat Mekkah. Saat itu, wanita adalah noda hitam nan kotor yang harus cepat-cepat dibersihkan. Tak peduli dengan dikubur hidup-hidup atau dijual sebagai budak dengan diskon 100%.
Kini, kita tahu telah lahir paham feminisme. Paham ini lahir sebagai perlawanan terhadap paradigma-paradigma miring ke bawah tentang wanita. Tak peduli di negara berkembang atau maju, wanita adalah objek penderita. Feminisme melawannya dan menggugat dunia. Mereka menggugah dan mendobrak. Wanita bukan objek penderita. Wanita tidak lemah. Wanita bisa menguasai dunia.
Secara salah, sebagian memahami feminisme sebagai perlawanan terhadap dunia laki-laki dan moment kebebasan wanita. Maka lahirnya feminisme bagai genderang perang terhadap kemaskulinan karena kemaskulinan begitu rupa telah menjadi ikon kehidupan. Kemaskulinan dan feminim dijadikan dua kutub yang berbeda yang berbenturan. Padahal Tuhan menciptakan keduanya bagai timbangan, jika hanya ada salah satu maka tidak seimbang. Jika kuat salah satu maka pecah lainnya.
Feminisme sebagai moment kebebasan wanita bisa tiba-tiba menjadi bumerang yang melukai diri sendiri jika mengabaikan faktor keseimbangan yang dibuat Tuhan. Faktor keseimbangan itu adalah tidak ada feminim 100% seperti juga tidak ada maskulin 100%. Dalam feminim selalu ada unsur maskulin, begitu juga sebaliknya. Masing-masing menyatu dan hidup. Feminim dan maskulin bukan dua kutub yang berseberangan. Feminisme bukan juga dendam atas kebodohan kelaki-lakian sehingga feminisme tidak dirayakan sebagai pengasingan diri dari dunia kemaskulinan. Euforia feminisme tidak boleh mengulang kesalahan sejarah kemaskulinan karena feminim atau maskulin di atas semua itu yang harus dicapai adalah keindahan kehidupan. Dan keindahan kehidupan ini hanya bisa dicapai jika feminim dan maskulin meleburkan diri.**
Tidak ada Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

